Peran Tri Pusat Pendidikan Berbasis Ajaran Ki Hajar Dewantara terhadap Pengelolaan Kecerdasan Emosi Anak Pada Era Teknologi Global
Aisyah Jiyantika Gitadewi, M.Pd., Gr. (Science teacher)
12/26/2025


Pendidikan menjadi pondasi pembangunan bangsa karena membentuk karakter dan kualitas sumber daya manusia. Oleh sebab itu, pendidikan perlu dilaksanakan secara sistematis dan berlandaskan nilai moral dengan menekankan pengembangan kecerdasan emosional agar perkembangan akademis, emosional, dan sosial peserta didik berlangsung seimbang melalui peran guru dan orang tua.
Kecerdasan emosi menjadi elemen penting dalam pembentukan karakter sesuai tujuan pendidikan nasional melalui pengelolaan emosi yang bijak dalam lingkungan belajar yang aman dan suportif. Lingkungan seperti ini menjadi landasan yang kuat bagi perkembangan peserta didik secara menyeluruh. Dalam mendukung hal tersebut, teori manajemen kelas Jacob Kounin melalui konsep with-it-ness menekankan pentingnya kesadaran guru terhadap dinamika kelas agar mampu merespons situasi secara efektif, yang sejalan dengan teori positive discipline dari Fred Jones yang turut memberikan kontribusi penting dalam menciptakan manajemen kelas yang efektif dan kondusif.
Teknologi mempermudah akses pendidikan (Lestyaningrum, et al., 2022), namun juga menghadirkan tantangan budaya digital dan media sosial yang berpotensi menggerus nilai moral melalui hoaks, cyberbullying, dan ekspresi emosi yang tidak pantas (Rohadi dan Najicha, 2023; Jadmiko dan Damariswara, 2022), sehingga kecerdasan emosi menjadi bekal penting bagi peserta didik dalam mengembangkan empati, tanggung jawab, dan penilaian moral di dunia digital.
Kondisi kecerdasan emosi peserta didik diketahui melalui observasi serta penyebaran angket kepada dua kelompok sampel yang berbeda. Berdasarkan hasil angket tersebut, diperoleh data mengenai pola pengelolaan dan ekspresi emosi peserta didik, yang disajikan dalam grafik berikut:
Data menunjukkan bahwa peserta didik Kelompok A cenderung memendam emosi dan masih menampilkan perilaku berbicara kasar saat marah, yang mengindikasikan kesulitan dalam pengelolaan emosi. Sebaliknya, Kelompok B lebih banyak menunjukkan kemampuan pengendalian emosi yang adaptif dalam mengekspresikan perasaan dan mengontrol emosi marah.
Peserta didik dengan kecerdasan emosi rendah cenderung mengalami penurunan fokus dan motivasi belajar, sedangkan kecerdasan emosi yang tinggi berpengaruh positif terhadap motivasi belajar karena membantu peserta didik mengelola emosi, berempati, dan memiliki tujuan belajar yang jelas, sejalan dengan temuan Anggraini, et al. (2022). Rendahnya kecerdasan emosi berdampak pada lemahnya karakter peserta didik, seperti kurang empati, kesulitan mengelola konflik, dan rendahnya tanggung jawab, yang tercermin dari perilaku berbicara kotor, kekerasan, dan bullying verbal. Hal ini sejalan dengan penelitian Rijal, et al. (2022) yang menyatakan bahwa kecerdasan emosional berpengaruh signifikan terhadap karakter peserta didik sebesar 17,90%, sementara sisanya dipengaruhi faktor lain.




Gambar 2.1 Grafik Hasil Angket Pola Pengelolaan dan Ekspresi Emosi Kelompok A
Gambar 2.2 Grafik Hasil Angket Pola Pengelolaan dan Ekspresi Emosi Kelompok B


Gambar 2.3 Grafik Hasil Angket Perkembangan Pola Pengendalian Emosi Peserta Didik Kelompok B
Keterangan:
Pola 1: Merasa lebih tenang setelah curhat kepada orang tua, guru, atau teman daripada melampiaskan emosi di media sosial.
Pola 2: Berusaha menggunakan media sosial dengan sikap yang sopan dan bertanggung jawab, meskipun sedang emosi.
Pola 3: Sering “mengkode” perasaan melalui kata-kata atau lagu di status media sosial.
Pola 4: Pernah merasa sedih, takut, atau tidak percaya diri karena komentar jahat di media sosial.
Pola 5: Saat emosi, pernah menulis komentar tanpa berpikir panjang di media sosial.
Tri Pusat Pendidikan menegaskan pentingnya kolaborasi keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam membentuk kecerdasan emosi dan moral anak secara menyeluruh. Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa pendidikan membutuhkan keteladanan dan keterlibatan bersama melalui prinsip “Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa”, sehingga pembentukan karakter anak menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya sekolah.




Gambar 2.4 Grafik Hasil Angket Pola Asuh Orang Tua
Gambar 2.5 Grafik Hasil Angket Pola Asuh Guru di Sekolah
Keterangan:
Pola 1: Orang tua membuat aturan waktu penggunaan gadget di rumah
Pola 2: Orang tua mengetahui aplikasi dan media sosial yang saya gunakan
Pola 3: Orang tua mengawasi penggunaan gadget saya dengan cara yang baik dan tidak memaksa
Pola 4: Orang tua memberi contoh penggunaan gadget yang baik di rumah
Pola 5: Orang tua lebih memilih berinteraksi langsung daripada terus memegang gadget
Keterangan:
Pola 1: Sekolah memiliki aturan yang jelas tentang penggunaan gadget di lingkungan sekolah
Pola 2: Guru mengingatkan siswa tentang etika berkomunikasi di media sosial
Pola 3: Guru memberi contoh penggunaan gadget yang bijak di sekolah
Keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama memiliki peran penting dalam membentuk kemampuan anak mengekspresikan dan mengelola emosi secara sehat, yang tercermin pada hasil grafik perkembangan pola pengendalian emosi peserta didik Kelompok B. Hasil angket menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik mampu bersikap lebih tenang, bertanggung jawab, dan tidak impulsif dalam penggunaan media sosial, yang tidak terlepas dari pola asuh orang tua di rumah.
Grafik 2.4 menunjukkan pola asuh sekaligus keteladanan orang tua dalam penggunaan gadget yang bijak merupakan peran yang sangat berpengaruh dalam membentuk pola pengendalian emosi anak, sebagaimana tercermin pada hasil grafik perkembangan pola pengendalian emosi peserta didik Kelompok B. Ketika orang tua mampu menjadi Ing Ngarso Sung Tuladha, yaitu memberi contoh nyata dengan membatasi penggunaan gadget, menggunakan media sosial secara bertanggung jawab, serta lebih mengutamakan interaksi langsung dibandingkan terus memegang gawai, anak secara tidak langsung belajar cara mengelola emosi, menunda dorongan impulsif, dan bersikap bijak dalam merespons situasi emosional.
Keteladanan ini menjadi lebih kuat dibandingkan sekadar nasihat atau aturan tertulis, karena anak meniru perilaku yang mereka lihat setiap hari di lingkungan keluarga. Hasil angket yang menunjukkan kemampuan peserta didik dalam menahan diri, bersikap sopan di media sosial, dan tidak mudah bereaksi secara emosional dapat dipahami sebagai dampak dari praktik keteladanan tersebut.
Selain peran keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama, penguatan kecerdasan emosi dan karakter peserta didik juga berlanjut di lingkungan sekolah. Sekolah menjadi ruang strategis untuk menanamkan nilai-nilai pengendalian diri, tanggung jawab, dan sikap positif melalui keteladanan guru, penerapan aturan yang konsisten, serta pembiasaan perilaku yang mendukung perkembangan emosional dan moral peserta didik secara berkelanjutan.
Temuan pada grafik 2.5 mengindikasikan bahwa sekolah berperan aktif dan konsisten dalam menciptakan lingkungan belajar yang terstruktur dan bernilai edukatif. Kejelasan aturan membantu peserta didik memahami batasan perilaku, sementara penguatan etika komunikasi melatih kemampuan pengendalian diri, empati, dan tanggung jawab dalam berinteraksi, yang merupakan komponen utama kecerdasan emosi.
Selain itu, keteladanan guru dalam penggunaan gadget yang bijak mencerminkan penerapan prinsip Ing Ngarso Sung Tuladha, di mana peserta didik belajar melalui contoh nyata, bukan sekadar instruksi. Pola ini berkontribusi pada kemampuan peserta didik dalam mengelola emosi secara adaptif, menahan impuls, serta mempertimbangkan dampak emosional dari tindakan dan perkataan, baik di lingkungan sekolah maupun di ruang digital. Dalam konteks Tri Pusat Pendidikan, peran sekolah menjadi penguat nilai yang telah ditanamkan di keluarga, sekaligus jembatan antara pendidikan di rumah dan pengaruh lingkungan masyarakat.
Ki Hajar Dewantara mengingatkan bahwa pendidikan sejatinya bertujuan menuntun anak mencapai kekuatan kodratnya sesuai dengan alam dan zamannya, di mana pada konteks kodrat zaman saat ini pendidikan berada dalam kehidupan Abad ke-21 yang ditandai dengan perkembangan teknologi dan digitalisasi. Dalam menghadapi perubahan tersebut, Ki Hajar Dewantara menganjurkan sikap terbuka namun tetap waspada agar kebebasan yang ada tidak menggerus nilai-nilai luhur.
Media sosial menjadi ruang ekspresi emosi anak sehingga peran orang tua dan guru penting dalam membimbing peserta didik agar mengekspresikan emosi secara sehat dan bertanggung jawab, sekaligus melakukan pengawasan, diskusi, dan pembiasaan sikap selektif untuk meminimalkan dampak konten negatif terhadap kecerdasan emosi. Temuan grafik 2.2 dan 2.3 menunjukkan bahwa pengendalian emosi peserta didik terbentuk melalui sinergi Tri Pusat Pendidikan, dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang relevan dalam menyelaraskan nilai Pancasila dan realitas digital, sehingga diharapkan terbentuk generasi yang unggul secara akademis, berkarakter kuat, dan memiliki kecerdasan emosi yang matang di era digital.
Anggraini, T. P., Abbas, N., Oroh, F. A., & Pauweni, K. A. (2022). Pengaruh Kecerdasan Emosional dan Motivasi Belajar Terhadap Hasil Belajar Matematika Peserta didik. Jambura Journal of Mathematics Education, 3(1), 1-9.
Jadmiko, R. S., & Damariswara, R. (2022). Analisis Bahasa Kasar yang Ditirukan Anak Remaja dari Media Sosial Tiktok di Desa Mojoarum Kecamatan Gondang Kabupaten Tulungagung. Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 15(2), 227-238.
Lestyaningrum, I. K. M., Trisiana, A., Safitri, D. A., & Pratama, A. Y. (2022). Pendidikan Global Berbasis Teknologi Digital di Era Milenial. Unisri Press.
Rijal, A., Nuraisyiah, N., & Nurjannah, N. (2022). Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Karakter Peserta didik Program Keahlian Akuntansi: The Effect of Emotional Intelligence on The Character of Students’ Accounting Expertise Program. Neraca: Jurnal Pendidikan Ekonomi, 8(1), 12-19.
Rohadi, N. R., & Najicha, F. U. (2023) Media Sosial dan Pengaruhnya Terhadap Kehidupan Berbangsa Pancasila.
DAFTAR PUSTAKA
